BAB I

PENDAHULUAN

1.1      Latar Belakang Masalah

Budaya merupakan ciri khas suatu bangsa yang di setiap bangsa masing – masing berbeda satu dengan lainnya. Budaya memiliki banyak nilai dan pesan keindahan, penghargaan dan kebersamaan bagi yang melestarikannya. Salah satu budaya bangsa kita yang sangat bernilai adalah gotong – royong, yang penerapannya tidak membedakan suku, agama, warna kulit, dan budaya daerah. Semua yang majemuk menjadi satu seperti semboyan kita “Bhinneka Tunggal Ika”. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan adalah makhluk sosial yang harus bekerja bersama dengan manusia lain untuk mencapai visi bersama, salah satunya dengan budaya gotong royong. Namun seiring berkembangnya zaman, teknologi semakin lama semakin canggih, perputaran informasi semakin cepat sehingga membuat manusia cenderung lebih memikirkan diri sendiri dan kurang peduli lingkungan sekitar. Ini mulai terjadi di kota besar yang mayoritas

bekerja sebagai karyawan/pegawai kantor, buruh, dan lain-lain. Ini situasi yang sangat memprihatinkan dan mengancam persatuan NKRI.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa Negara Republik Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa. Suku bangsa yang dimaksudkan tersebut tersebar mulai Sabang sampai Merauke. Memang tidak mudah untuk senantiasa mempertahankan agar keutuhan bangsa Indonesia tetap terjalin sampai saat ini, hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa wilayah yang mencoba untuk mengikrarkan diri sebagai negara sendiri yang bermartabat. Dengan adanya beberapa wilayah yang mulai memisahkan diri dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang tercinta ini, tidak lantas membuat bangsa Indonesia secara umum mengalami perubahan yang signifikan. Salah satu karakteristik yang senantiasa akrab dengan bangsa Indonesia dengan adanya semangat gotong royong. Prinsip gotong royong merupakan salah satu ciri khas atau karakteristik dari bangsa Indonesia. Hal ini dapat dinyatakan dengan adanya berbagai aktivitas masyarakat Jawa Timur khususnya, yang senantiasa mengedepankan prinsip gotong royong tersebut. Hal lain yang mendukung keberterimaan perilaku gotong royong juga dapat dinyatakan pada pancasila yaitu sila ke- 3 “Persatuan Indonesia”.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa perilaku gotong royong yang dimiliki bangsa Indonesia sebenarnya sudah sejak dahulu kala. Hal tersebut didapatkan dari berbagai referensi yang terkait dengan kehidupan generasi pendahulu yang senantiasa mengedepankan perilaku gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai bahan perenungan bahwa perilaku gotong royong merupakan sebuah manifestasi dari kepribadian bangsa Indonesia dan merupakan budaya yang telah berakar kuat dalam berbagai sendi kehidupan bermasyarakat. Secara tidak langsung, perilaku gotong royong yang dimiliki masyarakat Indonesia ini dapat mulai tumbuh dari kita sendiri dan pada akhirnya berpotensi sebagai ekspresi perilaku dari masyarakat Indonesia.

1.2      Rumusan Masalah

Apa yang dimaksud dengan gotong royong?

Apa yang dimaksud dengan globalisasi?

Bagaimana pengaruh budaya asing terhadap budaya gotong royong?

Bagaimana strategi kita dalam menghadapi globalisasi di bidang sosial budaya?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1     Pengertian Gotong Royong

Gotong royong dapat dianggap sebagai suatu kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara bersama-sama dan bersifat sukarela. Hal ini dilakukan agar kegiatan yang dikerjakan tersebut dapat berjalan dengan lancar, mudah dan terkesan lebih ringan karena dilakukan secara bersama-sama. Pendapat lain yang menyatakan mengenai gotong royong juga dinyatakan oleh beberapa pendapat dari berbagai referensi yang mendukung.  Masyarakat secara umum menyatakan bahwa bahwa bergotong royong adalah kegiatan bersama-sama yang dilakukan dalam mengerjakan atau membuat sesuatu. Begitu pula yang dimaksud kegotongroyongan merupakan cara kerja yang rasional dan efisien akan dibina tanpa meninggalkan suasana tertentu.

Kata gotong royong telah menjadi kosa kata Bahasa Indonesia. Bahkan telah masuk dalam kosa kata Bahasa Indonesia (Dewan Bahasa dan Pustaka, Kamus Dewan, 1997 : 412). Kata itu mungkin masuk ke dalam khasanah perbendaharaan Bahasa Indonesia bersamaan dengan kata berdikari (hal. 142), satu istilah yang sama – sama dipopulerkan oleh Bung Karno. Gotong royong berasal dari kata dalam Bahasa Jawa, atau setidaknya mempunyai nuansa Bahasa Jawa. Kata gotong dapat dipadankan dengan kata pikul atau angkat. Sebagai contoh, ada pohon yang besar roboh menghalangi jalan di suatu desa. Masyarakat mengangkatnya bersama- sama untuk memindahkan kayu itu ke pinggir jalan. Orang desa menyebutnya dengan nggotong atau menggotong. Demikian juga ketika ada seorang anak jatuh ke selokan dekat gardu desa, dan kemudian seseorang mengangkatnya untuk mengentaskan anak itu dari selokan. Kata royong dapat dipadankan dengan bersama-sama.

Dalam bahasa Jawa kata saiyeg saeko proyo atau satu gerak satu kesatuan usaha memiliki makna yang amat dekat untuk melukiskan kata royong ini. Ibarat burung kuntul berwarma putih terbang bersama – sama, dengan kepak sayapnya yang seirama, menuju satu arah bersama- sama, dan orang kemudian menyebutnya dengan holopis kuntul baris. Jadi, gotong royong memiliki pengertian bahwa setiap individu dalam kondisi seperti apapun harus ada kemauan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam memberi nilai tambah atau positif kepada setiap obyek, permasalahan atau kebutuhan orang banyak disekeliling hidupnya. Partisipasi aktif tersebut bisa berupa bantuan yang berwujud materi, keuangan, tenaga fisik, mental spiritual, ketrampilan atau skill, sumbangan pikiran atau nasihat yang konstruktif, sampai hanya berdoa kepada Tuhan. Bagi mereka yang masih belum mampu melakukan salah satu dari alternatif bantuan diatas, maka mereka cukup dengan berdiam diri dan tidak berbuat apapun yang bisa merusak situasi dan kondisi yang berlaku saat itu. Berdiam diri dan tidak membuat keruh situasipun sudah merupakan implementasi gotong royong yang paling minimal.

Budaya gotong royong adalah cerminan perilaku dan ciri khas bangsa Indonesia sejak zaman dahulu. Penerapan gotong royong mengalami pasang surut penggunaannya mengikuti arus dan gelombang masyarakat penggunanya. Kata gotong royong telah digunakan oleh semua lapisan masyarakat, dari kalangan birokrat dan pemimpin pemerintahan sampai kalangan buruh tani, tukang ojek, sampai dengan peronda malam di kampung-kampung. Bung Karno sendiri pernah menggunakannya sebagai nama DPR Gotong Royong. Kata gotong royong pernah digunakan sebagai nama SMP Gotong Royong di satu kabupaten yang terpencil. Kelompok Reyog Ponorogo menggunakan kata gotong royong sebagai nama kelompok kesenian rakyat ini.

Bahkan tukang becak, pedagang kaki lima, atau berbagai kelompok masyarakat telah menggunakan kata gotong royong dan ikut mempopulerkan penggunaan kata gotong royong sebagai khasanah perbendaharaan kata dalam Bahasa Indonesia.

2.2     Pengertian Globalisasi

Menurut beberapa ahli pengertian globalisasi adalah sebagai berikut :

  1. G. Mc. Grew (1992) :

Globalisasi mengacu pada keserbaragaman hubungan dan kesalingterkaitan antara negara dan masyarakat. Globalisasi adalah proses dimana berbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekwensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan dunia yang lain.

  1. Thomas L Friedman .(2009):

Globalisasi memiliki dimensi ideologi dan teknologi. Dimensi ideologi, yaitu kapitalisme dan pasar bebas, sedangkan dimensi teknologi adalah teknologi informasi yang telah menyatukan dunia.Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai- nilai dan budaya tertentu ke seluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat pergerakkannya sejak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah samudra oleh orang-orang Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia. Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia, sehingga batas-batas suatu negara menjadi bisa. Globalisasi merupakan suatu proses yang harus terjadi dan tidak mungkin dihindari. Kemajuan bidang komunikasi menghasilkan media yang canggih sehingga memudahkan terjadinya proses globalisasi.

2.3      Pengaruh Globalisasi dalam Budaya Gotong Royong

Dalam perjalanan bangsa terjadi perubahan dalam sikap budaya bangsa Indonesia. Sikap budaya gotong royong yang semula menjadi sikap hidup bangsa telah mengalami banyak gempuran yang terutama bersumber pada budaya Barat yang agresif dan dinamis, mementingkan kebebasan individu. Dengan memanfaatkan keberhasilannya di berbagai bidang kehidupan serta

kekuatannya di bidang fisik dan militer, barat berhasil semakin mendominasi dunia dan umat manusia. Dampak globalisasi ini telah mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan yang ada di masyarakat, salah satunya adalah aspek budaya gotong royong Indonesia. Masa sekarang ini, dampak globalisasi telah mempengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia tentang hakikat budaya gotong royong. Masyarakat lebih suka membeli barang – barang mewah yang sarat dengan pemborosan daripada menyisihkan hartanya untuk membantu orang fakir dan miskin. Masyarakat menjadi cenderung individualis, konsumeris, dan kapitalis sehingga rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan senasib sepenanggungan antar sesama manusia mulai hilang tergerus ganasnya badai globalisasi yang mempunyai dampak negatif serta dampak positif tanpa difilter terlebih dahulu oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Arus globalisasi dalam bidang sosial budaya begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama kalangan muda. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda seakan kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia.

Dari cara berpakaian misalnya, banyak remaja – remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya barat, berpakaian minim dan bahan yang digunakan memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak terlihat. Dari cara berperilaku, remaja cenderung mencoba sesuatu yang baru yang tidak memperdulikan dampaknya dan akibat yang di timbulkan. Sikap yang terlalu setia kawan yang terkadang kawan itu sendiri bersalah, namun tetap mendukungnya dengan setia. Dan dapat dikatakan remaja memiliki semangat gotong royong yang tinggi namun terkadang gotong royong untuk membela yang salah dan tidak mau tahu kebenaran. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan memakai pakaian yang sopan dan berperilaku gotong royong yang baik sesuai dengan kepribadian bangsa. Namun untungnya setelah salah satu warisan budaya bangsa bangsa Indonesia yaitu Batik diakui oleh UNESCO sebagai budaya asli Indonesia dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia, pemerintah di beberapa daerah mulai bergotong royong membuat peraturan daerah yang bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya sendiri khususnya batik dengan memerintahkan instansi-instansi pemerintahan untuk mewajibkan pegawainya memakai baju batik pada hari Jum’at. Dan hal ini pun ditiru oleh perguruan tinggi dan instansi-instansi swasta lain di berbagai bidang. Dengan memakai batik dan bangga memakai batik berarti kita telah melestarikan budaya kita yang sarat dengan nilai seni, gotong royong, perjuangandan menunjukkan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia kepada dunia

BAB III

PENUTUP

3.1       Kesimpulan

  1. Gotong royong adalah unsur budaya yang membuat bangsa menjadi bangsa yang besar dan kuat.
  2. Dengan semangat gotong royong, mudah bagi bangsa untuk mengatasi suatu masalah karena

semua bekerja untuk menyelesaikannya bersama.

  1. Globalisasi masuk ke dalam aspek budaya suatu masyarakat atau negara yang akan berdampak pada perubahan budaya tersebut karena globalisasi adalah hal yang pasti terjadi di semua aspek kehidupan.
  2. Dengan semangat gotong royong, dapat memeratakan program pembangunan nasional, dan tidak membuat jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin karena semua manusia Indonesia bersatu untuk mencapai tujuan mulia bersama.

DAFTAR PUSTAKA

Indriyani, Titiek, dkk. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan. Cilacap: MGMP

Prastowo, Tammi. 2007. Ilmu Pengetahuan Sosial. Klaten: Saka Mitra Kompetensi

Rukiyati, dkk. 2008. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: UNY Press

Kropotkin, Peter. 2006. Gotong Royong: Kunci Kesejahteraan Sosial. Depok: Piramedia

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=9559&val=4997

Advertisements